Tau Gak Asal Usul Nama Pempek dan Sejarah Pempek??


Pempek, makanan khas Palembang yang saat ini sangat dikenal di seluruh Indonesia, ternyata memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan budaya dan tradisi masyarakat Kesultanan Palembang Darussalam. Makanan ini awalnya dikenal dengan nama kelesan, sebuah sebutan yang menunjukkan daya tahan makanan tersebut untuk disimpan dalam waktu lama.

Awal Mula Pempek di Kesultanan Palembang Darussalam

Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, pempek bukan hanya sekadar makanan biasa, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi adat yang erat hubungannya dengan kehidupan rumah tangga di rumah limas, rumah tradisional Palembang. Rumah limas, yang dikenal sebagai simbol budaya Palembang, biasanya menjadi pusat pelaksanaan berbagai acara adat seperti pernikahan, kenduri, atau syukuran. Di dalam rumah inilah kelesan sering disajikan sebagai hidangan adat.

Pempek atau kelesan pada masa itu dibuat dari ikan yang menjadi hasil tangkapan melimpah di Sungai Musi, terutama ikan belida. Ikan ini kemudian diolah bersama sagu, menghasilkan makanan yang bergizi dan memiliki tekstur khas. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Palembang, kelesan menjadi makanan yang dapat diandalkan, terutama karena daya tahannya. Makanan ini bisa disimpan selama beberapa hari tanpa kehilangan kualitasnya. Istilah "kelesan" sendiri berasal dari kata "keles," yang dalam Bahasa Palembang berarti "disimpan."

Perubahan di Masa Kolonial Belanda

Seiring berjalannya waktu, kelesan mulai dikenal lebih luas di luar lingkungan rumah adat Palembang. Perubahan ini terjadi terutama di masa kolonial Belanda. Pada masa itu, aktivitas perdagangan di Palembang berkembang pesat, didorong oleh kedatangan berbagai etnis, termasuk para pedagang Tionghoa.

Orang-orang Tionghoa, yang terkenal dengan keahlian berdagang, melihat potensi besar dari makanan kelesan ini. Mereka mulai menjual kelesan secara luas di kawasan Palembang, terutama di sekitar kawasan keraton (yang saat ini berada di sekitar Masjid Agung Palembang dan Masjid Lama). Penjual kelesan ini sebagian besar adalah pria tua dari komunitas Tionghoa yang dikenal dengan sebutan "apek" atau "pek-pek" dalam bahasa mereka.

Ketika para pembeli memanggil penjual ini, mereka sering menyebutnya dengan panggilan "pek" atau "empek-empek," sebagai tanda penghormatan kepada mereka. Lama-kelamaan, sebutan ini menjadi identitas dari makanan itu sendiri. Nama "kelesan" perlahan tergantikan oleh nama "pempek," yang lebih akrab dan mudah diingat oleh masyarakat.

Pempek dan Perkembangannya Hingga Saat Ini

Pempek mulai populer sebagai makanan jalanan di Palembang pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1916. Saat itu, para penjual mulai berdagang di berbagai tempat strategis, terutama di sekitar Sungai Musi dan kawasan keraton. Pempek tidak hanya menjadi makanan favorit masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian pendatang dari luar Palembang.

Seiring waktu, pempek mengalami banyak inovasi, baik dari segi rasa maupun bentuk. Awalnya, pempek hanya berupa adonan ikan dan sagu yang digoreng. Namun, kini ada berbagai jenis pempek seperti pempek kapal selam, pempek lenjer, pempek adaan, pempek keriting, hingga pempek kulit. Setiap jenis pempek memiliki karakteristik rasa yang unik, menjadikannya semakin digemari.

Pempek juga dikenal dengan pelengkap khasnya, yaitu cuko, saus asam manis pedas yang terbuat dari gula merah, bawang putih, dan cabai. Kombinasi pempek dengan cuko inilah yang memberikan sensasi rasa yang khas dan sulit dilupakan.


Komentar